Membaca Karir Politik Fir’aun dari Perspektif Manajemen Risiko dan Filsafat

Tanggal:

Tatkala para ahli nujum (pakar strategi)-nya memprediksi bahwa kelak terdapat suatu masa, ada rakyat (pemuda) yang akan menggulingkan kekuasaannya, itulah sebuah risiko kekuasaan. Dan Fir’aun pun, selain mengantisipasi dampak secara preventif, ia juga melakukan mitigasi risiko terhadap kemungkinan (probabilitas) yang mengancam kekuasaan.

Risk appetite atau kesedian menerima risiko diletak pada level zero torerance. Kebijakan tanpa torelansi. Semua bayi lelaki dibunuhnya.

Ketika bayi Musa justru diasuh oleh sang permaisuri namun dibiarkan oleh Fir’aun, inilah titik pembuka kelalaian Fir’aun sehingga tindakan preventif dan mitigasi risiko yang dikerjakan selama ini menjadi sia-sia. Musa seperti “kuda troya” kecil yang dipelihara di lingkar istana ketika besar justru memenggal kekuasaannya.

Sekarang kita ke ranah filosofi terutama pada metode silogisme hipotesis.

1) Seandainya dahulu Fir’aun membunuhi semua bayi tanpa toleransi, dia akan tetap menjadi raja diraja (premis mayor);

2) Bayi Musa tidak dibunuh (premis minor);

3) Maka, dalam perjalanan kekuasaannya Fir’aun — di ujung karir politik, ia tidak menjadi raja bahkan terbunuh (kesimpulan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bagikan berita:

Daftar

spot_imgspot_img

Popular

Berita Terkait
Berita Terkait

Burberry is the First Brand to get an Apple Music Channel Line

Find people with high expectations and a low tolerance...

For Composer Drew Silva, Music is all About Embracing Life

Find people with high expectations and a low tolerance...

Pixar Brings it’s Animated Movies to Life with Studio Music

Find people with high expectations and a low tolerance...

Concert Shows Will Stream on Netflix, Amazon and Hulu this Year

Find people with high expectations and a low tolerance...